Rabu, 25 Juli 2012

resep masakan

Pernahkah anda kebingungan dengan soto daging sapi sisa kemarin? Saya yakin ada diantara anda yang pernah mengalami hal seperti ini, apalagi pada bulan puasa yang porsi makan umumnya agak berkurang dari hari-hari biasa. Mau dibuang, sayang, karena dagingnya masih banyak. Nah coba tips dari saya, resep sosis daging kecap pedas yang mudah dan praktis.
Bahan: Daging sapi (dari soto yang tersisa)
            Sosis sapi 6 buah
            Kecap pedas secukupnya (sesuai selera)
            mentega 2 sendok makan
            150 cc kaldu soto
Cara membuat:
1. Panaskan mentega
2. Masukan daging sapi dan sosis yang sudah dipotong sesuai selera
3. masukkan kecap pedas
4. Tuangi air
5. Jika kurang asin boleh ditambahkan garam
6. Aduk-aduk sampai mengental
7. Siap disajikan

cerpen

ULAR
“Jeng….. ada produk baru lho, itu… tas mungil, aduuuhhh… kulitnya mengkilap, warna emas putih keperak-perakan.. wuiss kalau Jeng lihat pasti dijamin mau dech,” jeng Nuri, sahabat kongkowku nyerocos tak bisa berhenti. “Aduh, Jeng, bukannya gak mau, tapi aku khan koleksi tasnya dah banyak banget, ”tolakku secara halus. “Eit…jangan bilang gak mau lho, jeng! Kulitnya beda, terbuat dari anaconda asli, barang langka, Jeng, ambilnya aja dari Amazon, ntar kalau diambil orang nyesel dech karena aku baru nawarin ke Jeng Ndari aja. Soalnya aku tahu hobi Jeng en yang penting itu lho, dokatnya paling tebel, hi….hi….hi…..”
Aku terdiam setelah ngobrol panjang lebar di telepon. Kupikir-pikir lagi tawaran jeng Nuri tentang tas itu. Memang aku dan keempat sahabatku penggemar semua tas, sepatu, dompet dan semua asesories yang terbuat dari kulit ular, bahkan lingeriku juga ada! Ular-ular yang biasa dijadikan barang koleksi kami juga tak sembarangan, selain kulitnya pilihan juga ularnya adalah ular muda, konon katanya kalau jenis kulit ular muda lebih berkilau dan lebih tahan lama. Kalau kulit ular tua biasanya kualitasnya lebih jelek dan mudah rusak. Saking tergila-gilanya aku akan koleksi ular sampai-sampai Aku harus berburu lingeriku sampai ke mancanegara, dan aku tak peduli dengan harga yang selangit, yang penting aku hepi dengan penambahan koleksi kulit ularku yang paling beda dengan rekan-rekanku sesama istri bos.
Aku, jeng Nuri, jeng Anna, jeng Retno dan jeng Sukma adalah para istri bos yang selalu ngumpul bareng untuk mengisi kegiatan sehari-hari selain menemani para suami jika dibutuhkan  dan kebetulan sama-sama penggemar produk-produk kulit ular, bahkan kami bersaing untuk mengumpulkan koleksi sebanyak-banyaknya. Tapi diantara kami berlima yang tidak terlalu ngoyo adalah jeng Nuri, karena dia justru yang rajin berburu produk kulit ular ter update untuk ditawarkan kepada kami, dan biasanya akulah orang pertama yang dia tawari, sehingga koleksikulah yang paling lengkap dan tentunya paling pertama punya jika ada produk baru.
Aku hitung-hitung dulu uang di tabunganku, eh….siapa tahu suamiku sudah mentransfer lagi. Cepat-cepat kuambil handphone dan kutekan tombol sms banking. Yess….aku berteriak kegirangan, tabunganku sudah bertambah hingga mencapai kisaran jumlah sembilan buah nol! Aku segera menelpon jeng Nuri tuk memastikan tas yang ditawarkannya. Tak perlu memakan hitungan hari tas mungil itu telah berpindah ke tanganku setelah kukuras semua isi tabunganku untuk mentransfer ke rekening jeng Nuri.
Yach memang benar omongan jeng Nuri, tas itu berkilau kala di malam hari dan  tampak anggun, sedang di siang hari tas tampak gemerlap hingga kemewahannya terpancar, dan lihat....di bagian depannya ada kantong kecil yang bukaannya tidak memakai risleting ataupun kancing tulang seperti tas-tasku sebelumnya , tapi kancing ini mata ular asli! Seumur aku punya koleksi tas ular tidak pernah mata ular dijadikan asesoris, karena seperti ketika aku tanyakan kepada pembuat tas, konon katanya itu pantangan karena mata ular menyimpan memori yang sangat tajam, seperti kamera digital yang bisa menyimpan langsung gambar  yang dibidiknya dan seperti seorang spionase, sehingga dikhawatirkan ular lain bisa menangkap sinyal tersebut dan mengetahui sang pembunuhnya dan akhirnya mengadakan perhitungan alias balas dendam, dan balas dendam itu selain ditujukan kepada sang pembunuhnya langsung, bisa juga kepada siapa saja yang pernah berhadapan dengannya.
Ach...itu khan takhyul yang berkembang di masyarakat! Sekarang sudah zaman modern dan aku tinggal di apartemen mewah di tengah kota, tak mungkin ular bisa masuk ke dalam apartemen, kecuali kalau aku tinggal di pedesaan yang di setiap kiri kananku ilalang dan pohon bambu, baru kemungkinan ada ular. Lagian, ngapain aku mikirin dunia ular, aku khan bukan pembunuh! Aku hanya pecinta seni dan kemewahan. Dan satu hal lagi, ini ular anaconda, boo, mana ada saudaranya bangsa ular sejenisnya di Indonesia sini, la wong tinggalnya di Amazon sana.
Malam nanti ada pesta yang harus aku hadiri. Aku  sibuk mematut-matutkan baju, tas dan sepatuku, bahkan lingeriku. Aku akan pergi ke pesta  kebun yang diadakan salah satu temanku, jeng Retno, yang merayakan ulang tahun pernikahannya yang kesepuluh. Mereka   merayakannya dengan mengeluarkan dana yang sangat tinggi. Bayangkan saja, pesta kebun di malam hari, dengan lampu merkuri ribuan watt sehingga taman di malam hari disulap seperti layaknya siang hari:terang benderang. Kemudian merekapun sengaja menyewa koki-koki internasional untuk memasak, belum lagi segala tetek bengek pesta yang memakan budget luarbiasa! Wuiss...aku membayangkan kemeriahan pesta itu harus setimpal dengan penampilanku yang serba wah.
Malam harinya aku diantar sopir pribadiku menuju tempat pesta.Tempatnya di sebuah perumahan elit di tengah kota yang menyediakan lahan berupa sebuah taman seluas 500 meteran khusus untuk disewakan dan digunakan sebagai tempat pesta kebun yang nyaman. Ketika aku tiba disana sudah tampak banyak tamu dan mereka semua menatapku dengan takjub. Aku berjalan dengan penuh percaya diri dan senyum puas mengembang di bibirku. Segera aku temui jeng Retno bersama suaminya, dan kamipun cipika-cipiki. ”Hei....Jeng Ndari, kamu cantik banget malam ini, wah...tasnya lagi, keren banget...,” sapa jeng Retno dengan mata sedikit agak mendelik. Aku tahu itu, karena walau suara dan senyumnya dibuat semanis dan seramah mungkin, tetap sorot matanya tak bisa berbohong. Memang kami bersahabat, tapi juga sekaligus bersaing dalam segala hal. Dan dia paling tidak suka kalau melihat aku punya koleksi terbaru yang lebih bagus dan lebih mahal daripada koleksinya. ”Makasih, dan selamat ya atas perkawinan kalian yang sudah melewati angka sepuluh, yang kata orang masa-masa tersulit dalam sebuah perkawinan, hi...hi....,” sambil kukedipkan sebelah mataku kearah suami jeng Retno dan kami bertigapun tertawa hangat. Pasangan jeng Retno dan suaminya tampak mesra di usia perkawinan kesepuluhnya, padahal itu hanya topeng belaka. Kami selalu bersama sehingga kami tahu seluk beluk kehidupan pribadi kami. Selain kami suka kongkow bareng arisan, berburu fashion dan kuliner, kamipun pemburu cinta. Awalnya hanya iseng yang berujung ketagihan, dari bermula arisan uang lama-lama arisan lelaki muda alias brondong. Tapi satu hal yang tidak diketahui oleh semua sahabatku, termasuk jeng Retno, beberapa bulan terakhir ini aku sering berkencan dan bercinta dengan suami jeng Retno, bahkan lingerieku yang sekarang kupakai adalah hadiah dari suami jeng Retno kala kami berdua berkencan di kota Paris.
Makin malam pesta makin hangat, kami semua berpesta, berdansa dan bergoyang dengan bergelas-gelas vodka yang kami teguk. Musik syahdu dan ceria silih berganti membuai gerakan kami. Tak kuhitung berapa lelaki yang memintaku berdansa bersama mereka. Aku memang terkenal sebagai ratu pesta, karena tubuhku yang lentur bisa meliuk-liuk sesuai irama musik, mau disko, mau goyang samba, mau dansa, aku selalu bisa. Sepertinya malam ini memang malam pesta untukku, karena suamiku sedang ke luar negeri sibuk dengan bisnisnya. Bahkan suami jeng Retno merupakan orang pertama yang minta aku temani berdansa, dan sempat-sempatnya pula sambil berdansa lelaki itu mengulum bibirku! Kami sangat menikmati dansa ini kalau tidak disamperi jeng Retno yang meminta suaminya menemaninya dansa, mungkin pelukan kami tidak akan terpisah sampai pagi menjelangpun, seperti yang biasa kami lakukan bersama ketika berjelajah cinta. Setelah terasa capai berdansa aku duduk beristirahat bergabung dengan sahabat-sahabatku. Seperti biasa obrolan kamipun ramai dibumbui tawa cekikikan nakal kami. ”Eh, lihat tuch, ada cowok keren, ”bisik jeng  Nuri sambil matanya tertuju ke satu arah. Mata kamipun serentak mengikuti arah tatapannya. ”Mana?” tanya jeng Retno. ”Huss, jangan keras-keras, lihat tuch pemuda yang sedang berdiri sendirian di bawah pohon rindang, pake baju abu-abu keemasan dan tangannya memegang sloki yang diarahkan ke kita”, bisik jeng Nuri lagi. Dan ya benar di sudut sana tampak seorang pemuda ganteng sepertinya bukan orang Indonesia dan kamipun belum pernah melihatnya. Kami menyangka mungkin pemuda tersebut diajak kemari oleh salah satu tamu undangan jeng Retno. ”Aku samperin,ya? Siapa tahu bisa dijadikan bahan arisan buat minggu depan”, bisik jeng Sukma sambil berkedip binal penuh arti dan diapun melangkah menuju tempat pria itu berdiri. Kami melihat mereka langsung terlibat obrolan hangat dan tampak jeng Sukma cekikikan. Beberapa saat kemudian jeng Sukma kembali ke tempat kami dan menyuruh kami mengundi arisan saat itu juga. Dia bilang pemuda itu sedang terburu-buru karena masa berlaku visanya sudah akan habis besok pagi dan dia akan segera pulang ke negara Amerika setelah dia menyelesaikan pekerjaannya di Indonesia. Dan tak perlu menunggu waktu lama undian diam-diam kami adakan, tentu saja pemenang pertama adalah jeng Sukma, karena dia yang pertama berkenalan dengan pemuda bule itu, kesempatan kedua jeng Anna, disusul jeng Retno, kemudian jeng Nuri, dan aku kebagian yang terakhir. Dalam hati aku berkata tak apa-apalah berkencan diurutan terakhir juga, yang penting aku tidak diburu-buru waktu antrian, hi..hi...hi.....
Jeng sukmapun berlalu bergandengan mesra dengan pemuda bule itu meninggalkan taman ini. Kami menanti dengan harap-harap cemas, takut si bule tidak kembali. Oh ya kami sampai lupa bertanya siapa namanya. Seperempat jam kemudian, aku lihat si bule sudah berdiri kembali di bawah pohon, sama seperti tadi berdiri bersandar sambil memegang sloki yang diarahkan kepada kami berempat. Tidak perlu menunggu komando kamipun mengerti dengan isyarat tersebut dan jeng Anna, jeng Retno dan jeng Nuri bergantian pergi meninggalkan taman pesta ini.Tinggal hanya aku yang duduk sendirian di kursi yang letaknya agak menyingkur ini.Tak lama si bule datang lagi tapi berbeda dengan yang tadi, kalau tadi dia mengirim isyarat memanggil dari kejauhan, kini dia sendiri yang mendekatiku dan duduk di sampingku. Kutatap wajahnya yang ganteng dengan senyum dan tatap mata yang mempesona. Ah.. kuyakin tak kan ada seorang wanitapun yang tak luluh oleh pesonanya. Tatap matanya tajam dengan bola mata biru kehijau-hijauan. Aku sepertinya pernah mengenal siempunya mata ini, tapi siapa dan dimana? ”You’re so special. You are the girl that I’ve been looking for  a long time. You’re always in my dream and become the shadow of my life. Actually I’m always with you everytime, day and night, surround you again and again,” bisiknya pelan tapi tegas. Aku tergetar, entah perasaan apa yang kini berkecamuk melingkupi relung-relung hatiku. Harusnya aku tersanjung mendengar bisikannya tapi ada perasaan ganjil dan membuatku merinding, apalagi ketika tanganku bersentuhan dengannya, tangan itu licin  tidak berbulu tidak seperti kebanyakan tangan orang bule yang penuh bulu, bahkan seperti hanya kulit jangat saja saking licinnya dan terasa dingin menempel tanganku. ”Who are you?”, tanyaku lirih. ”You will know soon”, jawabnya pendek sambil   membimbingku meninggalkan kursi yang kududuki. Kami menuju pohon tempat dia tadi berdiri dan aku diajak menyelinap ke belakang pohon itu. ”Close your eyes,” bisiknya sambil mencium keningku, ”I’ll show you something”. Aku geli ketika tangannya mulai liar ditubuhku, aku membuka mata dan aku ingin berteriak sekuat tenaga, tapi aku tak kuasa. Ditubuhku melilit seekor ular ukuran besar dengan mata menyala dan lidah yang yang siap menjilat dan menyemburkan bisa. Ada suara yang entah datangnya darimana, ” You have destroyed our population. You always ask someone to kill us. We’re dead young because of you and your friends. We become the victims because of your hobby, your greediness to reach your satisfactions and your money! I come here to kill you all as my family asked. And now your turn to finish our mission to revenge after I succeeded in killing your  friends. I’ll peel your skin step by step and I’ll let you feel how pain it is and I’ll enjoy it the same as you enjoy our skin.” Lamat-lamat aku mendengar namaku dan keempat temanku dipanggil lewat microphone karena pesta telah usai. Aku tak kuasa bergerak hanya perih luar biasa yang kurasa bahkan aku tak kuasa mengerang, kulit ariku lapis demi lapis disayat dengan geriginya yang tajam dan darah membuncah dari setiap pori-pori tubuhku, hanya mataku yang dapat bergerak kesamping, dan terlihat pemandangan mengerikan. Tampak tubuh keempat temanku seperti kelopak bunga mawar merah merekah yang berlapis-lapis…………

Bandung Barat, penghujung Januari 2010

prosa

SIMALAKAMA



Pertama-tama aku perkenalkan namaku buah Simalakama.Aku tidak tahu siapa dan dimana ayah ibuku , dimana tempat tinggalku bahkan aku tidak tahu bagaimana wujudku, bagaimana bentuk rupaku, tapi yang aku herankan aku selalu ada dimana saja bahkan semua orang mengenalku padahal aku sendiri tidak mengenali diriku.
Aku kadang iri kepada teman-temanku yang berjenis buah-buahan.Mereka semuanya punya orangtua , mereka punya wujud , mereka punya bentuk, warna bahkan rasa. Mereka sering mengolok-olokku dan mentertawakanku. Aku sakiiit sekali.Contohya kemarin waktu aku lewat di depan pohon apel dia berkata :”heh….Simalakama, apa kamu betah hidup tanpa wujud? Kamu buah tersial di bumi ini. Kamu hanya punya nama yang membuat semua orang sial. Kamu dibenci manusia. Sekarang kamu juga enyah dariku! Aku tak ingin kesialan menimpaku karena kamu dekat denganku.”
Aku menunduk berjalan tanpa arah. Ketika aku tengadah tak terasa aku sudah ada di dekat dua orang anak masih berseragam yang sedang bercakap-cakap di bawah sebuah pohon rindang. Salah seorang anak berbisik pada temannya:”Bagaimana,Ton? Apakah kita harus kembali ke rumah atau tetap disini bersembunyi? Aku bingung.” Anak yang dipanggil Ton menjawab:”iya,aku juga tak tahu harus bagaimana. Kita bagai makan buah simalakama. Kalau kita pulang kita takut dimarahi karena bolos sekolah, tapi kalau kita tetap sembunyi kita mau makan apa? Sedangkan perutku sudah melilit dari tadi. Aku sudah tak tahan.” Deg….kembali aku kaget mendengar namaku dibawa-bawa, salah apa aku ini? rintihku dalam hati, sedang aku sendiri tidak pernah bertemu dengan kedua anak ini dan aku tidak merasa berbuat apa-apa dengan kedua anak itu. Aku marah dan kesal setelah tahu mereka menyalahkanku.
Aku berjalan kembali tanpa arah. Sampailah aku di sebuah gubug terpencil. Disana tampak seorang ibu sedang mengusap kepala anak gadisnya yang terisak-isak dipelukannya. Nah…..aku senang melihat pemandangan indah ini yang tak pernah aku rasakan seumur hidupku; kehangatan kasih sayang seorang ibu. Aku mengendap-endap menguping pembicaraan mereka.:”Nak…..bukannya ibu tak sayang kamu. Ibu juga tak ingin memaksamu, tapi ibu bagai makan buah simalakama, kalau ibu paksa kamu kawin sama tuan Gendut kamu akan putus sekolah, tapi kalau ibu menolak lamarannya ibu takut dia akan menyuruh preman kampung menyiksa bapakmu karena tak bisa bayar utang.” Lagi-lagi aku terkejut mendengar ibu itu menyebut namaku. Pesona seorang ibu yang tadi aku rasakan hilang seketika berganti dengan kebencian. ”ahhhhhh….rasanya sangat berat bagi ibu ‘tuk memutuskannya,anakku sayang….Ibu tak kuasa menolak takdir yang terjadi pada keluarga kita.” Suara sang ibu tak terdengar lagi setelah berucap kepada anaknya,hanya suara isak tangis sang anak gadis yang terdengar perih, seperih hatiku yang selalu mengacaukan kehidupan semua orang.
Aku terkejut ketika sadar aku sudah ada di dalam sebuah ruangan kelas yang berisi penuh anak-anak yang sedang belajar. Tampak di depan kelas berdiri seorang ibu guru sedang mengajar Bahasa Indonesia. ”Anak-anak, masih ingat peribahasa yang ibu terangkan kemarin?” “Masiiihhhhh….,”jawab mereka serempak. ”Bagus, coba Dea, apa arti peribahasa Bagaikan makan buah simalakama?”  Anak yang dipanggil Dea tampak berfikir, ”Ng…..apa ya? Oh iya Bu, saya ingat. Artinya jika dimakan ibu mati tak dimakan ayah mati.”  “Pintar”,puji bu guru kepada Dea.
Hah….apa tadi? Mungkinkah orang tuaku tak ada gara-gara aku? Tapi masa sih aku dimakan? Huuhh…bingung!
Aku kembali meneruskan perjalananku sambil bertanya-tanya dalam hati, mengapa semua orang yang aku temui menyalahkanku. Sepertinya aku ini biang kerok yang selalu membuat masalah di bumi ini. Hei…lihat ….ada sorang gadis kecil mungil sedang menggendong seekor anak kucing. Dia berjalan perlahan menuju sebuah taman yang dipenuhi alang-alang. Aku mendekatinya aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan di sana. Kemudian gadis itu menurunkan kucingnya di dekat pohon cemara. ”Pussy sayang…..maafkan aku,ya….aku sebenarnya sangat sayang sama kamu tapi kalau aku tak sembunyikan kamu disini mamaku pasti akan membuangmu ke pasar, aku bagai makan buah simalakama, Pussy. Please…jangan marah,ya? Aku pasti nengok kamu dan membawakan makanan untukmu tiap hari. Aku janji deh.” Setelah mengelus kepala kucing dan menciumnya gadis itupun berlalu. Aku menatap kucing itu. Aku merasa marah campur iba. Kenapa aku lagi aku lagi yang disalahkan?  Kenapa kucing itu harus terbuang gara-gara aku?
Dalam diam aku merenung,  mungkinkah aku sembunyi supaya tak seorangpun yang akan mengenaliku dan menyebut-nyebut namaku? Belum lagi aku menghela nafas kulihat seorang remaja meraung-raung ditarik oleh dua orang pria kekar ke dalam mobil. Dibelakangnya tampak beberapa orang memperhatikannya. Salah seorang diantara mereka berkata: ”Yah….inilah jalan terbaik bagi si Anna dan keluarganya. Lebih baik dia dibawa ke rumah sakit jiwa.”  Kemudian wanita di sebelahnya menimpali: ”Memang…,sebetulnya kasihan juga pada ibunya. Dia bagai makan buah simalakama. Jika si Anna di rumah terus seperti kemarin dia malu sama tetangganya karena anaknya sering berbuat onar dan membuat tetangga ketakutan dengan ulahnya itu tapi kalau si Anna di rumah sakit dia kesepian di rumahnya yang besar itu karena  mereka kan hanya tinggal berdua.”
“Sudahlah…,tak usah diperbincangkan lagi yang penting kita aman sekarang, tak akan ada lagi yang teriak-teriak tengah malam dan merusak lagi barang-barang kita,” timpal lelaki yang berdiri di belakang.
Sedih, marah, kesal, benci……………..kemana harus kutumpahkan semua perasaan ini? Kenapa aku harus ditakdirkan jadi buah simalakama yang hanya menyusahkan setiap orang saja? Aku marah pada semua orang yang selalu menyalahkan aku dengan semua persoalan mereka. Aku kesallllll……... aku benciiiiiiiiii……….aku teriak sekuat tenaga tapi tak satupun mahluk yang peduli dengan aku. Siapa aku? Bagaimana rupaku? Darimana datangnya aku? Kapan kalian mengenalku? Sampai kapan kalian menyalahkanku? Wahai manusia tolong jawab semua pertanyaanku. Aku sudah tak tahan. Aku ingin bunuh diri tapi bagaimana caranya? 

                                                                                 Bandung,medio Juni 2008

loecoe teu?

PSK
Apred:”Pajarkeun maneh ayeuna geus jadi PSK?”
Dini(nyorongot):”Naon siah,gagabah ari ngomong teh.”
Apred:”Pelajar Sekolah Kejuruan,kan?”
Dini(seuri koneng):”heueuh,
bener.”

puisi

KADO ULANG TAHUN

Kutatap sepasang giwang mungil dalam genggaman
Yang baru kubeli pagi tadi di Pariaman
Dengan segumpal uang lusuh ribuan kucel dan lecek
Yang kusisipkan lembar demi lembar
Dalam selongsong buluh yang kutemukan di sudut bak sampah
Yang kukais dan kubedah
Tepat seratus hari
“Abah,aku ingin giwang Mickey Mouse seperti yang dipakai semua temanku di kelas. Si Roro bilang kalau perempuan itu harus pakai giwang.
Pokoknya nanti di hari ulang tahunku harus ada,titik !”
Hari ini dirgahayu ke sembilan
Aku terpaku dalam diam
Bak kapas terbang tanpa gravitasi
Diatas bongkahan batu
Diantara tangisan tetanggaku

puisi

UBAN

Kau datang tanpa dapat kucegah
Disenjaku yang hampir limit
Meniti bumi yang kian usang
Menyusuri semua daratan yang menggunung
Menyembulkan kemilau warna kelabu
Dan akhirnya memutih
Entah kenapa kau kubenci
Mungkin karena aku menolakmu?
Sama seperti penolakan sang perawan
Di dusun belakang gubukku
Karena kau ada
Cintaku tiada

seuri heula

SIEUN DISADAP

Ceu Wiwi    : “Halow”
Nyi Narti     :”Halu,ieu sareng Ceu Wiwi?”
Ceu Wiwi    :”Enya,ieu teh nyi Narti?’
Nyi Narti(semu ngaharewos) : “Muhun,didinya teu aya sasaha sareng teu aya nu nyurigakeun,Ceu?”
Ceu Wiwi(pipiluan sorana dilaunkeun) :”Euweuh,aya naon kituh?”
Nyi Narti :”Bilih disadap ku KPK”.
Ceu Wiwi :”Heueuh aya naon kituh,buru bejakeun!”
Nyi Narti :”Abdi bade nambut artos saheulaan mah.”
Ceu Wiwi :”Sugan teh aya naon,boro Euceu milu haharewosan.”




MOMOBILAN

“Pun anak mah unggal dinten  momobilan we gawena teh”,ceuk ceu Imat semu keuheul.
“Nya atuh matak reueus ari tuang putra kamana-mana tumpak mobil mah,Ceuceu”,walon nyi Rukiah.
 “Heueuh mun kitu mah,da maksud ceuceu mah budak teh maen momobilan wae,cocooan budak ,padahal geus SMA tapi resep keneh ulin jiga budak bolon.keuheul ceuceu mah”,tempas Ceu Imat.